17 januari 2013
"huft?! ternyata hanya mimpi..."
aku termenung dan berusaha bangkit, terasa jelas sakit yang menyeruak dikepala bak semut api yang menggerayangi. mungkin memang saatnya bangkit. sudah terlalu siang, bahkan ayampun sudah bosan membangunkan. terhenyak dengan keadaan sekitar, masih saja sepi. baiklah, tak ada yang bisa diubah. mimpi memang kejam indah atau mentahnya, sakit atau perihnya tak akan terjadi di masa nyata. aku segera ke arah westafel, masih dengan langkah malas, membilas wajah dan membuka mata lebih lebar, terlewat sudah tadi satu kamar tua,
yaa semua kamar dirumah memang tua, tapi kamar itu biasanya ditempati oleh orang yang tertua. yang tertua, yang paling dicinta PASTINYA.
sebuah dipan bisu selalu jadi saksi perjuangan ketidakberdayaan mereka, tokoh yang dicinta. memang usia memakan lintas waktu tanpa sadar, tapi bagiku, mereka yang terhebat, tak ada kecerobohan di masa muda, dan bebas dari cela di masa tua, benar-benar hidup yang bijaksana.
beberapa jam berlalu, terdengar keributan lain aku pun melongok ke jendela. sebuah mobil pick up parkir di depan halaman. hmm mungkin saja kelanjutan dari percakapan kemarin sore.
"berapa harganya sewaktu dibeli?"
"sekitar dua juta "
"wah, kalau begitu saya bayar sejuta saja ya? bukan saya juga yang akan memakai"
aku diam hanya mengawasi dari kejauhan, yah, itu saja.
tak berapa lama dipan tersebut telah terbagi menjadi dua dan segera diangkut bersama rasa tidak rela yang terselip di dada. baiklah, aku siap! aku siap hidup tanpanya, aku siap melangkah tanpa himbauannya, aku siap berlari tanpa dikejar lagi olehnya, itu semua bukan karena ku tak ingin, tapi karena dia, memang telah tiada. beratus juta puisi tak mewakili rasa kehilangan, apalagi air mata, ia hanya terurai tanpa tujuan, tanpa tau waktu dan tempat.
aku...
kembali teringat beberapa memori indah, saat ia kuajak berjemur, kusuapi bubur dan kuusaapi air wudhu, itu takkan terjadi lagi.. tak akan. dari mereka semua yang kucinta, dialah yang paling lekat dalam kenangan, bagaimana tidak? mungkin dari 24 jam yang kupunya dalam sehari, hanya lima menit untuk sholat aku tak berada disisinya. benar-benar perpisahan yang berat. mungkin ini yang terberat dari semua perpisahan yang pernah membayang dihidupku yang singkat.
aku menutup tabir kamarku dan menatap foto-foto terakhirnya di handphone ku. . .
"tanggal 28 bulan 12 tahun 2012"
aku kembali tertegun mengingat hari itu dan meneriakkannya sekali lagi di hatiku
"dua delapan duabelas dua ribu dua belas"
"hiks. . ."
sesegukan itu menahan semua nafas, tak bisa berteriak akhirnya di tulis saja. . .
"dua delapan dua belas"
aku tau hari itu akan tiba, tapi aku tak tau, ternyata itu akan membuatku benar-benar terluka.
*bersambung

Tidak ada komentar:
Posting Komentar